Asal Usul Perempatan Mojopahit

by
Arus lalu lintas di perempatan mojopahit. (19-01-2018) (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Perempatan Mojopahit merupakan sebuah perempatan yang berada 500 m di sebelah Masjid Menara Kudus. Siapa sangka, perempatan ini menjadi saksi bisu perajalanan dakwah Sunan Kudus dan para santrinya dalam menyebarkan ajaran islam.
Disayangkan, hal semacam ini tidak banyak diketahui oleh masyarakat sekitar. Berikut adalah beberapa jawaban dari masyarakat sekitar, saat ditanya oleh ISKNEWS.COM Jumat (19-01-2018), tentang asal usul perempatan mojopahit.
Pertanyaan, Apa nama perempatan ini? “Perempatan Mojopahit,” ujar Lina (23) seorang penjual Mie Ayam di sekitar perematan mojopahit.

Dilanjutkan, Mengapa diberinama Perempatan Mojopahit? “Kalau saya tidak bisa cerita terkait asal usul perempatan mojopahit, karena saya bukan asli orang sini,” jawabnya.
Apakah anda tahu cerita tentang Ki Demang? “Kurang tau, tapi saya dengar Ki Demang adalah seorang ulama’ di daerah menara kudus,” pungkas Lina.

Kemudian ISKNEWS.COM mencoba untuk menanyakan kepada Saifuddin (35) salah seorang warga asli Demangan, tentang asal usul perempatan mojopahit.

Pertanyaan, Apa nama perempatan ini? “Perempatan Mojopahit,” jawabnya dengan mudah.
Mengapa diberinama perempatan mojopahit? “Saya kurang tau, yang tahu ceritanya Gajah Mada,” ujarnya sambil tertawa.

Lanjut, Apakah anda tahu cerita tentang Ki Demang? “Kalau Ki Demang saya tahu, ia merupakan salah seorang santri Suanan Kudus yang mesyiarkan ajaran islam di daerah sini,” katanya pada ISKNEWS.COM
Jawaban dari masyarakat sekitar perempatan mojopahit sangat beragam, hal tersebut mendorong ISKNEWS.COM untuk mengkonfirmasi kebenaran cerita tersebut ke Balai Desa Demangan.

Nur Sahid (41) seorang Perangkat Desa Demangan yang ditemui media ini di kantornya memaparkan, bahwa dahulu di Kudus terdapat sebuah pondok besar dibawah asuhan Sunan Kudus atau Sayyid Ja’far Shadiq.
“Menurut cerita dari nenek moyang saya, pondok Sunan Kudustersebut memiliki banyak santri. Santri Sunan Kudus tidak hanya dari warga lokal, namun juga yang berasal dari luar kota, khususnya Jawa Timur,”ujarnya
“Tak hanya santri, pondok tersebut sering kunjungi oleh tamu-tamu yang berasal dari berbagai daerah, untuk “sowan” kepada Sunan Kudus,” kata Nur Sahid pada ISKNEWS.COM
Dari pondok tersebut lahirlah santri-santri Sunan Kudus yang kemudian membantu syiar Sunan Kudus di Kota Kretek ini. Salah satu santri tersebut bernama Ki Demang.
“Ki Demang melakukan syiar agama islam di wilayah selatan Pondok Kudus. Di selatan Pondok Kudus ada sebuah jalan kecil, yang menghubugkan pondok dengan sebuah desa, yang kita kenal dengan nama Desa Demangan saat ini. Sepanjang jalan tersebut dahulu banyak di dipadati pedagang,” ujarnya.
Tambahnya, “Pedagang tersebut mejual beraneka macam makanan hingga oleh-oleh untuk para tamu Suanan Kudus. Pada suatu ketika, Ki Deamang menanyakan kepada pedagang-pedagang tersebut, darimana asal mereka. Dan ternyata, mereka sebagian besar berasal dari kota majapahit atau yang kini kita kenal dengan Kota Mojokerto,”
Dari banyaknya pedagang yang berasal dari majapahit atau mojokerto, kemudian Ki Demang menyebut daerah tersebut dengan naman majapahit, sebagaimana kita kenal hingga saat ini. (NNC/YM)